Rabu, 19 November 2014

URBAN LEGEND #3: VILLAGE IN THE ATTIC



VILLAGE IN THE ATTIC
SEBUAH DESA DI LOTENG
 
Ada seorang anak baru di kelasku suatu hari ini. Ia tak pernah berbicara dengan siapapun, jadi dia tak memiliki satupun teman. Saat istirahat, ia hanya meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai menangis sesenggukan. Aku mulai penasaran dengan dirinya dan memutuskan untuk mengajaknya ngobrol.
“Kamu selalu kelihatan sedih. Apa ada yang ingin kauceritakan padaku?”
Ia tampak sedikit gemetar, namun akhirnya ia mau menceritakan padaku tentang dirinya.
Ia mengatakan, sekitar sebulan yang lalu, sesuatu yang sangat buruk terjadi padanya. Ia sedang duduk bermain video game di kamarnya ketika tanpa sengaja ia mendongak dan melihat sebuah papan di langit-langitnya terlihat sudah dipindahkan. Dari situ, ia bisa melihat kegelapan pekat yang ada di dalam loteng rumahnya. Bukannya takut, ia malah mengambil sebuah kursi dan senter, lalu naik ke sana.
Ketika sampai di atas, ia merasa terkejut akan betapa luasnya loteng rumahnya tersebut. Bahkan dengan senter, tampaknya kegelapan menyebar tanpa batas di sana. Rasa ingin tahunya membuatnya menjelajahi loteng tersebut. Namun setelah beberapa lama, senternya mati dan iapun mulai ketakutan. Ia mencoba mencari jalan keluar, namun sekeras apapun ia mencari, ia sepertinya tak bisa menemukan lubang dimana ia masuk tadi. Ia mencoba terus berjalan, namun kegelapan itu sepertinya tak ada habis-habisnya.
Ia tersesat di dalam loteng rumahnya sendiri.
Ia terus berjalan dan berjalan, ia akhirnya menemukan cahaya yang lemah di kejauhan. Ia segera berlari menghampirinya karena yakin itulah jalan pulang menuju kamarnya. Namun semakin dekat, iapun menyadari bahwa sumber cahaya itu bukanlah kamarnya. Ia tak yakin, namun ia melihat sebuah desa dari kejauhan.
Sebuah desa di loteng rumahnya.
Karena sudah merasa putus asa, iapun berjalan menuju desa itu, berharap di sana ia mungkin dapat menemukan jalan untuk kembali.
Ia mulai gemetar kembali dan air mata menetes di pipinya.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, namun aku melakukan sebisanya untuk menghiburnya.
“Sudahlah, tenang. Semuanya baik-baik saja sekarang.” Aku menepuk pundaknya, “Aku tahu pengalaman itu menakutkan. Namun kamu aman sekarang. Jangan menangis lagi.”
Perlahan, ia mendongakkan kepalanya dan menatapku. Air mata masih mengalir di wajahnya. Apa yang dikatakannya kemudian nyaris membuat jantungku berhenti.
“Tapi aku masih belum menemukan jalan keluar dari desa itu...”

Bookmark and Share

Artikel Terkait



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Indeks Blog