1. Etika Berkendara Dengan Sopan
Lihat deh kondisi lalu lintas kita beberapa tahun terakhir. Tidak
hanya semakin macet, tapi juga makin carut-marut. Di jalan raya semua
orang ingin jadi pemenang. Motor menyalip dari sebelah kiri. Mobil
membunyikan klaksonnya di malam hari. Seseorang akan tanpa dosa
mengambil jalur kiri jalan, kemudian langsung belok ke kanan.
Menyebabkan pengendara lain terkaget-kaget menyesuaikan diri.
Cara berkendara adalah cermin dari perilaku kita sebagai manusia.
Jangan kaget kalau di Indonesia banyak orang yang tega mengambil harta
rakyat yang bukan haknya. Itu sudah tercermin dari perilakunya di jalan
raya. Seandainya aja etika berkendara diajarkan dari kecil. Menyadarkan
bahwa ada hak orang lain yang terkebiri kalau kita bertindak ngawur di
jalanan.
2. Mata Pelajaran “Bertanya”
Orang Indonesia itu cerdas. Kalau kamu punya kesempatan menempuh
pendidikan di luar negeri, kamu akan mengakui hal ini. Pemahaman
kognitif kita gak kalah kok sama orang asing. Sayangnya, kita masih
malu-malu bertanya dan mengungkapkan pendapat. Padahal bertanya itu
penting lho. Bukan cuma sekedar mencari jawaban atas hal yang belum kamu
tahu. Proses bertanya juga membuka pola pikirmu.
Demi meningkatkan keinginan untuk bertanya, sekolah perlu punya kelas
khusus bertanya. Dalam kelas tersebut anak-anak bebas menanyakan
apapun. Mulai dari hal yang terkait pelajaran sampai hal konyol yang
nggak ada kaitannya sama sekolah.
Guru juga wajib memberikan jawaban yang “adil”. Kalau nggak tahu ya
bilang aja nggak tahu. Dengan kelas khusus bertanya anak-anak akan lebih
berani mengungkapkan pendapat mereka.
3. Mata Pelajaran “Berpikir Kreatif”
Guru: “Ayo anak-anak, coba gambar pemandangan!”
Template anak Indonesia: Dua gundukan gunung, matahari di tengah, sawah di bawahnya.
Salah satu kekurangan sistem pendidikan kita adalah sempitnya ruang
bagi kreativitas. Kita terlalu terbiasa dibentuk menjadi “seragam”. Jadi
berbeda dari teman-teman dan lingkungan terasa menakutkan. Padahal,
menjadi berbeda itu wajar banget. Nggak ada yang salah dari mengambil
sikap yang berseberangan dengan teman-temanmu, selama kamu punya
argumen.
Sekolah di Indonesia perlu punya mata pelajaran “Berpikir Kreatif” di
semua tingkat pendidikan. Di kelas ini anak-anak bebas mengembangkan
ide mereka sendiri untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Disini kamu
bisa menciptakan rumus bagi soal matematika, kamu bisa menulis naskah
drama, bisa membuat film untuk membantumu memahami soal Kimia.
4. Sejarah Dunia
Dari SD sampai SMA pelajaran tentang seharah dunia yang kita terima
hanya sebatas Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2. Padahal banyak
peristiwa sejarah yang terjadi diluar Indonesia yang perlu kita ketahui.
Bagaimana sejarah penjajahan negara Asia lain dan bagaimana mereka
menghadapinya.
Bagaimana tragedi kemanusiaan di Rwanda, Bosnia, serta
Chechnya terjadi. Bagaimana peliknya konflik agama di belahan dunia
lain. Sampai juga fenomena negara gagal.
Memiliki pemahaman yang menyeluruh soal sejarah dunia akan membuat
generasi Indonesia sadar bahwa hal yang terjadi di Indonesia juga
terjadi di luar negeri. Dan kalau orang-orang asing itu bisa
menghadapinya, kenapa kita tidak?
5. Mempertanyakan Sejarah
Pernahkah kamu bertanya kenapa Belanda bisa begitu lama menjajah Indonesia? Atau sesederhana, “
Siapa yang bersalah dalam peristiwa 1965?“.
Mempertanyakan fakta sejarah memang belum jadi kebiasaan yang lazim
dilakukan oleh orang Indonesia. Kita terbiasa menerima sebuah fakta
sejarah mentah-mentah dari sebuah sumber, tanpa pernah mencari fakta
tandingannya.
Padahal mempertanyakan fakta sejarah bisa membuat kita jadi orang
yang kritis dan berpengetahuan luas. Kita jadi terbiasa mengumpulkan
data tambahan sebelum memutuskan untuk sepakat atau tidak sepakat
terhadap suatu hal. Apabila sedari kecil anak-anak Indonesia sudah
diberi ruang untuk berani kritis terhadap fakta sejarah, kecintaan
mereka pada Indonesia bisa semakin dalam.
6. Ideologi Dunia
Walau kita yakin sepenuhnya pada ideologi Pancasila, bukan berarti
ideologi lain layak disalahkan dan jadi musuh bersama. Anak-anak
Indonesia perlu tahu apa itu komunisme, fasisme, sosialisme,
liberalisme, kapitalisme, atau humanisme sekuler –
secara lengkap dan adil. Mulai dari pemikiran yang ada dibaliknya hingga pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari
keberhasilan dan kegagalan yang terjadi di negara atau masyarakat penganut ideologi tersebut.
Kita nggak berhak mengatakan sesuatu buruk, salah dan layak dihakimi sebelum tahu dengan mendalam bukan?
7. Menggunakan Social Media Dengan Bijak
Fenomena ABG Labil, Anak Alay, Kimcil dan Terong-Terongan menunjukkan
betapa lemahnya anak muda kita dalam hal pemanfaatan media sosial.
Postingan galau soal perihnya putus cinta memenuhi lini masa
. Tidak jarang foto yang bersifat pribadi juga dengan murah diunggah ke berbagai situs pertemanan.
Penting bagi sekolah untuk mengajarkan bahwa anak muda harus cerdik
dalam memanfaatkan media sosial. Sekali sesuatu terposting via internet,
dia akan menyebar dan jadi milik publik. Padahal rekam jejakmu di media
sosial juga akan jadi bahan pertimbangan saat kelak melamar pekerjaan.
Pendidikan kita sayangnya belum memberikan pemahaman menyeluruh soal
menggunakan media sosial dengan tepat.
8. Sopan Santun Sederhana
Saat naik eskalator di mall, pernahkah kamu berpikir untuk berdiri di
sisi kanan/kiri saja sehingga orang yang terburu-buru bisa lewat?
Apakah kamu sudah biasa bertanya, “Mau lantai berapa, Bapak/Ibu?” kalau
kamu berada di dekat tombol lift? Atau pernahkah kamu diajari bagaimana
caranya menyajikan minuman untuk tamu atau bagaimana cara menghadapi
telepon salah sambung? Kalau jawabanmu tidak, berarti kamu sama dengan
saya. Saya belajar sopan santun bukan dari sekolah.
Sekolah di Indonesia barangkali terlalu sibuk menyiapkan muridnya
untuk lulus UN. Dibanding mempersiapkan mereka jadi anak-anak santun.
Maka gak jarang kita akan menemui anak pintar yang kemampuan sosialnya
nol besar. Bagaimanapun, kita ini tetap bangsa timur yang menjunjung
tinggi sopan santun. Pendidikan soal sopan santun wajib masuk dalam
kurikulum kita.
9. Hidup Bersama Orang Dengan Keterbatasan Fisik Dan Autisme
Pendidikan inklusi sudah jadi hal yang wajar bagi banyak negara di
dunia. Sayang, di Indonesia hal ini masih jarang ditemui. Coba deh
hitung, sekian lama bersekolah seberapa sering kamu punya teman yang
menggunakan kursi roda? Pernahkah kamu duduk sebangku dengan dia yang
visi penglihatannya lemah? Pernahkah kamu membantu teman penderita
autisme untuk duduk tenang dan menyimak pelajaran?
Bukannya menerima dan menghargai mereka, kita justru lebih terbiasa
mengolok dan mencibir. Ini bukan sepenuhnya kesalahan kita. Sedari kecil
kita memang tidak terbiasa diajarkan untuk hidup bersisian dengan
kawan-kawan yang berkebutuhan khusus. Kalau pendidikan kita tidak diubah
jadi lebih inklusif, kapan lingkaran setan diskriminasi di Indonesia
akan selesai?
10. Keterampilan Mengelola Uang dan Berinvestasi
Kita belajar skema debet-kredit, utang-piutang dan berbagai tipe
pembukuan yang rumit. Pemahaman dasar ilmu akuntansi bahkan telah
dikuasai di sma. Tapi apakah dengan itu kemampuan anak-anak Indonesia
mengelola uang menjadi semakin baik? Sayangnya, tidak juga tuh. Walau
sudah punya dasar teknis mengatur uang, aplikasinya sehari-hari masih
jauh dari harapan.
Selain diajari cara membuat pembukuan yang
balance, akan oke
banget jika sekolah juga mengajarkan bagaimana mengelola uang yang baik
dan bagaimana anak muda bisa mulai berinvestasi. Seharusnya sedari
kecil kita diajari untuk melihat uang sebagai modal untuk menghasilkan
penghasilan yang berlipat ganda. Bukan hanya sebagai komoditas yang bisa
dibelanjakan.
11. Pelajaran “Mendengarkan”
Ada sebuah debat antar pengacara di TV swasta nasional kita, sebut
aja nama acaranya “Indonesia Lauyier Clubzz”. Di acara tersebut
pengacara nasional Indonesia malah tampak seperti anak SD yang sedang
berdebat kusir. Saling lempar argumen, gak mau kalah, memotong
pembicaraan lawan bicara sebelum yang bersangkutan selesai menyampaikan
pendapat.
Kita memang bukan bangsa yang punya kemampuan mendengar dengan baik.
Debat kita anggap sebagai pertarungan. Bukan sebagai tempat tukar
pendapat. Seandainya saja ada mata pelajaran “Mendengarkan” di sekolah
kita.
Anak-anak akan didudukkan berpasangan, saling mengungkapkan argumen
terhadap suatu isu. Tapi lawan bicara gak boleh menyelamu sampai
pendapatmu selesai diungkapkan. Mereka wajib mendengarkan dan mencatat
poin yang kamu sampaikan. Kalau cara menjadi pendengar yang baik ini
diajarkan dari tingkat pendidikan terendah, cara bertukar pendapat di
negeri kita akan lebih sehat.
12. Menghargai Karya Seni
Temanmu yang suka berpuisi di linimasa Twitter kamu ejek sebagai orang galau. Dia yang suka corat-coret di
sketch-book dianggap aneh dan gak keren. Padahal dibanding kamu yang suka nge-
bully, mereka lebih keren karena bisa menghasilkan karya seni loh!
Anak-anak Indonesia perlu diajarkan untuk membedakan:
- Galau vs Puitis
- Artistik vs Ngawur
- Cupu vs Nyeni
Satu-satunya cara agar mereka bisa menarik garis perbedaan yang jelas
adalah dengan mengenalkan berbagai karya seni sedini mungkin. Gak cuma
membaca puisi, tapi anak-anak Indonesia juga perlu dikenalkan bahwa
puisi adalah media pembebasan bagi manusia.
Gak cuma dikenalin nama-nama pelukis, mereka juga perlu tahu kisah
dibalik lukisan tersebut. Bagaimana ide abstrak atau impresionistis bisa
dieksekusi jadi gambar di kanvas. Bagaimana orang-orang di luar sana
rela membayar mahal demi membeli hasil karya tersebut.
Tentu aja manusia bisa bertahan tanpa seni. Kasarnya: untuk tetap
hidup kita cuma butuh makan, mandi, ngantor, tidur. Tahu-tahu sakit dan
meninggal. Pertanyaan sebenarnya:
maukah kita hidup dengan cara se-mekanistis itu?
13. Memanfaatkan Internet
Sekarang anak TK aja udah tahu apa itu internet. Tapi kita masih jadi
bangsa yang bisanya mengkonsumsi saja, tanpa bisa memanfaatkan internet
sebagai peluang. Padahal kemajuan teknologi informasi memungkinkan kita
mengembangkan ide-ide bisnis dengan murah dan mudah.
Pelajaran sederhana tentang bahasa pemrograman dasar, bagaimana
memanfaatkan akun media sosial untuk jadi sumber penghasilan tambahan
hingga cara membentuk
start-up company berbasis internet layak masuk kurikulum pendidikan kita.
14. Jadi Relawan. Berkontribusi Langsung Untuk Masyarakat
Kita adalah bangsa yang punya gagasan dan idealisme besar. Tapi
sayang, kadang tangan kita tidak cukup ringan untuk bekerja keras
mewujudkan apa yang ada di otak. Bukannya diajarkan untuk menjadi
relawan dan berkontribusi langsung ke masyarakat, sedari kecil kita
hanya diajarkan untuk berargumen dan menciptakan retorika.
Kalau ingin Indonesia berubah kita perlu mulai sadar diri untuk
memberikan sesuatu pada negara yang kita cintai. Sejak masih duduk di
bangku sekolah anak-anak perlu diajarkan bahwa dalam dirinya selalu ada
yang bisa diberikan untuk orang lain. Jadi relawan dan turun langsung ke
masyarakat nggak harus dilakukan oleh mereka yang sudah ahli.